Andragogi
Andragogi, sebagai istilah teori filsafat
pendidikan telah digunakan sejak tahun 1833 oleh Alexander Kapp bangsa Jerman
yang bekerja sebagai guru sekolah grammar, istilah tersebut hilang dalam
peredaran zaman. Tahun 1921 istilah tersebut dimunculkan kembali oleh Eugene
Rosentock, seorang pengajar di akademik buruh Frankrut.
Sejak 1970-an istilah “andragogi” semakin banyak
digunakan oleh pada pendidik orang dewasa di Eropa, Amerika dan Asia. Menjelang
akhir abad ke-19 dan memasuki abad ke-20 beberapa ahli psikologi mengadakan
penelitian eksperimen tentang teori belajar walaupun pada waktu itu mereka
menggunakan binatang sebagai objek eksperimen. Penggunaan binatang
sebagai objek eksperimen berdasarkan pemikiran bahwa apabila binatang yang
kecerdasannya dianggap rendah dapat melakukan eksperimen teori belajar, maka
sudah dapat dipastikan bahwa kesperimen itupun dapat pula berlaku bahkan lebih
berhasil pada manusia, oleh karena manusia lebih cerdas daripada binatang.
Di antara
ahli psikologi yang menggunakan binatang sebagai objek eksperimen adalah EL
Thorndike (1974–1949), terkenal dengan teori belajar “Classical
Conditioning” menggunakan anjing sebagai ujicoba. B.F. Skinner (1904),
terkenal dengan teori belajar “Operant Conditioning” menggunakan tikus
dan burung merpati sebagai ujicoba. Dari teori belajar orang dewasa ini muncul
perspektif teori belajar orang dewasa yang biasa disebut dengan “Andragogi
Theory of Adult Learning”. Teori andragogi menjelaskan bagaimana belajar
orang dewasa dalam pembelajaran. Kedua komponen ini sangat berkaitan erat
dengan proses belajar dan pembelajaran. Di antara ahli teori belajar dan
pembelajaran orang dewasa ialah Care Rogers (1969), Paulo Freire (1972), Robert
M. Gagne (1977), Malcolm Knowles (1980), Jack Mezirow (1981).
Pengertian
andragogi itu sendiri adalah suatu
model proses pembelajaran peserta didik yang terdiri atas orang dewasa.
Andragogi disebut juga sebagai teknologi pelibatan orang dewasa dalam
pembelajaran. Proses pembelajaran dapat terjadi dengan baik apabila metode dan
teknik pembelajaran melibatkan peserta didik. Keterlibatan diri (ego peserta
didik) adalah kunci keberhasilan dalam pembelajaran orang dewasa. untuk itu
pendidik hendaknya mampu membantu peserta didik untuk: (a) mendefinisikan
kebutuhan belajarnya, (b) merumuskan tujuan belajar, (c) ikut serta memikul
tanggung jawab dalam perencanaan dan penyusunan pengalaman belajar, dan (d)
berpartisipasi dalam mengevaluasi proses dan hasil kegiatan belajar. Dengan
demikian setiap pendidik harus melibatkan peserta didik seoptimal mungkin dalam
kegiatan pembelajaran.
Prosedur yang
perlu ditempuh oleh pendidik sebagaimana dikemukakan Knowles (1986) adalah
sebagai berikut: (a) menciptakan suasana yang kondusif untuk belajar melalui
kerjasama dalam merencanakan program pembelajaran, (b) menemukan kebutuhan
belajar, (c) merumuskan tujuan dan materi yang cocok untuk memenuhi kebutuhan
belajar, (d) merancang pola belajar dalam sejumlah pengalaman belajar untuk
peserta didik, (e) melaksanakan kegiatan belajar dengan menggunakan metode,
teknik dan sarana belajar yang tepat dan (f) menilai kegiatan belajar serta
mendiagnosis kembali kebutuhan belajar untuk kegiatan pembelejaran selanjutnya.
Inti teori andragogi adalah teknologi keterlibatan diri (ego) peserta
didik. Artinya kunci keberhasilan daam proses pembelajaran peserta didik
terletak pada keterlibatan diri mereka dalam proses pembelajaran (Sudjana,
2005: 63).
Secara
etimologis, andragogi berasal dari bahasa Latin “andros” yang berarti
orang dewasa dan “agogos“ yang berarti memimpin atau melayani.
Knowles
(Sudjana, 2005: 62) mendefinisikan andragogi sebagai seni dan ilmu dalam
membantu peserta didik (orang dewasa) untuk belajar (the science and arts of
helping adults learn). Berbeda dengan pedagogi karena istilah ini dapat
diartikan sebagai seni dan ilmu untuk mengajar anak-anak (pedagogy is the
science and arts of teaching children).
Orang dewasa
tidak hanya dilihat dari segi biologis semata, tetapi juga dilihat dari segi
sosial dan psikologis. Secara biologis, seseorang disebut dewasa apabila ia
telah mampu melakukan reproduksi. Secara sosial, seseorang disebut dewasa
apabila ia telah melakukan peran-peran sosial yang biasanya dibebankan kepada
orang dewasa. Secara psikologis, seseorang dikatakan dewasa apabila telah
memiliki tanggung jawab terhadap kehidupan dan keputusan yang diambil.
Darkenwald dan
Meriam (Sudjana, 2005: 62) memandang bahwa seseorang dikatakan dewasa apabila
ia telah melewati masa pendidikan dasar dan telah memasuki usia kerja, yaitu
sejak umur 16 tahun. Dengan
demikian orang dewasa diartikan sebagai orang yang telah memiliki kematangan
fungsi-fungsi biologis, sosial dan psikologis dalam segi-segi pertimbangan,
tanggung jawab, dan peran dalam kehidupan. Namun
kedewasaan seseorang akan bergantung pula pada konteks sosio-kulturalnya.
Kedewasaan itupun merupakan suatu gejala yang selalu mengalami perubahan dan
perkembangan untuk menjadi dewasa. Istilah “andogogi” berasal dari “andr”
dan “agogos” berarti memimpin, mengamong, atau membimbing.
Dugan Laird
(Hendayat S., 2005: 135) mengatakan bahwa andragogi mempelajari bagaimana orang
dewasa belajar. Laird yakin bahwa orang dewasa belajar dengan cara yang secara
signifikan berbeda dengan cara-cara anak dalam memperoleh tingkah laku baru.
Comments
Post a Comment